Thursday, November 26, 2015

Sungguh engkau hidup dalam kalbuku...Dan disana disisi Maha Cinta....

Sungguh engkau hidup dalam kalbuku...Dan disana disisi Maha Cinta....

Lama pikiran untuk menuliskan tentang kematian—sesungguhnya kehidupan juga—ada dalam benakku. Entah kenapa setiap mau menulis ada yang terasa berat, saat ini aku tekadkan menulis, dipicu oleh kejadian wafatnya teman beberapa waktu lalu, dan istrinya juga temanku. Membuatku merenung lagi tentang kematian.

Tak ada yang pernah siap untuk ditinggalkan orang terkasih, apakah pasangan hidup, orang tua, anak, dsb., tetap saja semua datang tiba-tiba, mengejutkan dan meluluh lantakkan hati. Sejujurnya aku turut menangis membayangkan sedihnya temanku yang kehilangan suaminya, merasa malu karena tak bisa membantu, menghibur, entahlah apa kata-kata bisa membantu. Aku sendiri tak sanggup membayangkan jika itu terjadi padaku. Hanya doa-doa yang mampu aku panjatkan kelangitNya.

Kehilangan Ibu sembilan bulan lalu, merupakan kesedihan terdalam dalam hidupku. Pernah aku kehilangan 2 nenek, (2 kakek sudah tiada, gak pernah jumpa), dan saudara-saudara lain, tapi waktu itu aku masih kecil, tak begitu dalam memaknai kematian. Deraan kedua yang pedih adalah waktu tsunami, ketika menyaksikan ‘kiamat’ kecil yang tak sanggup digambarkan kata-kata...

Kematian begitu menyentak kesadaran yang  membuatku banyak berfikir, berfikir, berfikir...tafakur, tadabur, dan mengevaluasi segala hal yang sudah berlalu dalam hidupku. Hal utama yang aku rasakan betapa waktu  berlalu tak terasa. Aku masih punya rencana-rencana buat beliau, sebagiannya sudah kuutarakan, mengajak beliau tinggal bersamaku, tapi kehendak Allah berlaku. Bukankah Dia yang Haq? Kita hanya bisa punya rencana, belum sempat rasanya membahagiakan beliau, Allah sudah memanggilnya.

Kematian begitu menyentak akan kesadaran betapa singkatnya waktu kita singgah di dunia, sungguh hanya persinggahan sementara. Persinggahan yang melenakan, sampai lupa tujuan hidup sebenarnya. Begitu banyak yang ingin diperbaiki dari diri, dan kita tak pernah tahu berapa waktu tersisa. Juga memperbaiki cara mengelola rumah  tangga, mendidik anak-anak, dsb., mau jadi apa mereka, sudah benarkah cara dan jalan yang ku (kami) tempuh selama ini? Mampukah kuraih jalan cinta, yang kan berakhir indah?

Dan waktu jualah yang bisa mengobati luka hati karena kehilangan orang yang kita cintai. Apapun saran bisa kita terima, tapi luka tetap membutuhkan waktu untuk sembuh. Sabar, ikhlas, memang kuncinya, namun tak semudah mengucapkannya.  Awal-awal kematian begitu menyentak diri, selain tafakur dan tadabur, aku banyak baca buku-buku, search di google tentang alam barzakh, kemana, dimana jasad manusia berada menurut Islam, dsb. Ada yang kuingat ketika seorang temanku, datang melayat, dia begitu siap akan masa depan. Aku terkaget, plus kagum waktu dia bercerita dia bahkan sudah siapkan kafan dan kain panjang di rumahnya, sudah berpesan-pesan pada anak-anaknya. Betapa sebenarnya itu tindakan paling logis yang seharusnya kita lakukan? Sejak kecil kita mungkin sudah tahu  dari guru agama bahwa yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Lalu mengapa takut membicarakannya dan mempersiapkannya? Aku sendiri merasa lalai dan abai...

Kemudian yang juga sangat kuingat adalah saat Amai dan Mamakku berkata, “Anggaplah Ibu masih hidup bersama kita, seperti yang kami lakukan untuk Andi.” Andi adalah anak Mamakku (Oom) yang sudah wafat di usia muda.

Membaca banyak referensi, akupun akhirnya sampai pada pemahaman, bahwa beliau, Ibu yang aku cintai masih hidup di sana, di suatu tempat indah disisiNya, di Barzakh, dan tentunya di hati orang-orang yang mencintainya. Ini bisa mengurangi kesedihan, sekarang lebih kepada keikhlasan dan mengirim doa-doa untuk beliau. Semoga Allah memudahkan aku juga bisa mengirim kebaikan. Semoga engkau perkenankan segala doa-doa untuk beliau Ya Rabb... Maha Cinta.


PondokCinta Darussalam, 26 November 2015

PadaMu

Satu 

Aku berhenti pada batas
terdiam merenung
kemana arah langkah

Aku tak tunduk pada rasa
juga tak mengandalkan hanya logika 
limbung menyeimbang gamang
menyebut-nyebut namaMu

Hasrat merayu
aku kelu
demi secercah cahayaMu, 
aku tunduk
menghamba


Dua 

Getar, gemetar berbaur
amarah, sayang berimbang
aku belajar memahami diri, kemanusiaan 
dia, aku, mereka

Ya Rahman, Ya Rahim,
bebaskan ku dari letup
degup jantung
api dendam
benci membara

PadaMu yang jiwaku dalam genggamanMu
aku serahkan segala ruh segala tubuh

pada sepertiga malamMu ya Qudus, jauhkan aku dari hal yang mempersingkat jarak 
antara Engkau dan aku


RumahCinta, February 17, 2010

Wednesday, November 25, 2015

Pulang

Satu

Kali ini pulangku yang kesekian

usai perjalanan, lelah, hati berdarah

didera luka kerna tualang

gamang, menimbang langkah

resah gundah gulana kubawa

kepadaNya jua kembali jiwa

Tak jera kelana kuarung jauh

hanyut dalam aliran takdir

yang kadang tak kumengerti dalam kesempitan pikir

pulangku kembali dalam zikirku kan kasih, damai terindah

di haribaanMu, Sang Pemurah

Hampir mendekat langkah sudah

kucium wangi kembang di gerbang

sungguh serasa seluruh ruhku bangkit kembali

memacak gairah di jantung, mengukir senyum

terbang segala bimbang, gamang pergi

Pada sajadah baur segala isak

tumpah segala rasa, ruah segala rindu

lega beruparupa dahaga

haus jiwa, kupuaskan, mencoba meraih cahaya

Engkau Sang Cinta

dekaplah, dalam setiap helaan nafas, tak ingin kuberakhir

senantiasa rindu menderu-deru

tak ingin lepas sedetikpun waktu.

Dua

Kembara

kemanapun langkah

mencari arah

merambah belantara

mencapai gunung

menyeberangi samudera

langlang buana

ke mayapada

diri kembali kedalamku

menyadari adaMu

di sini. di setiap inti sel tubuh

memagut utuh ruhku

jiwa kembali padaMu semata

tubuh luluh pada penghambaan

fitrah al-insan.

RumahCinta, Ayahanda Medan, 17 Januari 2010

About Me

My photo
Welcome to my Blog.... Mom, kids lover, nature lover, Islam and peace lover, like to read, write, travel. Darussalam, Banda Aceh. Indonesia.