Monday, June 11, 2018

Di ujung waktu



waktu menderu
melesat cepat
aku ditelan masa
nelangsa
masih termangu, di jalan buntu
tergugu ragu
belum terbasuh utuh noda-noda
bertambah jelaga
membalut sukma
hitam, kelam menenggelamkan jiwa
Oh Maha Cahaya
terangi diri dalam panas binar membakar
dalam gelap batin menggigil
Oh Maha Cinta
pasrah aku, luruh aku, luluh aku
tak berdaya
kupohonkan ridha atas maaf dan ampunan
di ujung Ramadhan cinta.
Darussalam, 12 June 2018

Thursday, December 15, 2016

CINTA ITU PEDULI

CINTA ITU PEDULI

“Dear world, there's intense bombing right now. Why are you silent? Why? Why? Why? Fear is killing me & my kids. - Fatemah #Aleppo”
https://twitter.com/hashtag/aleppo

Terbangun sebelum Subuh dengan Aleppo di kepalaku, di hatiku membayang. Begitu juga Rohingnya, Palestine, segenap negeri-negeri Muslim yang dizolimi, serta negeriku yang mulai gonjang ganjing, fitnah bertebaran merisaukan kalbu...Bahkan juga serupa Tibet yang masih saja dijajah. Dan tak banyak yang Peduli. Ya Rabb Segala Maha, tempat bergantung segenap makhluk, tuntun jiwa pada kejernihan, bening di dalam terpalung batinku...hanya berisi cahayaMu, tak meragu sedikitpun. Semoga engkau berikan kekuatan untuk berbuat lebih tak hanya doa.

Aku bisa saja pura-pura tak mau tahu, tak peduli dengan keriuhan di jagad maya tentang kekejian luarbiasa yang sudah terjadi di sana, di negeri-negeri cinta seharusnya bertahta. Namun batin tak bisa diam, bergejolak di dalam...aku bisa saja pura-pura ‘cool’ tak menyentuh-nyentuh masalah kejadian ini pada status-status di medsos...namun nurani berteriak walau suara tercekat di tenggorokan....

Kupertanyakan kenapa semua bisa terjadi, dengan kebodohan menyalah-nyalahkan Engkau...Alhamdulillah, insya Allah Kau tuntun hati untuk senantiasa berprasangka baik kepadaMu. Dari sisi kami, mungkin semua terjadi agar kami lebih peduli, menolong saudara-saudara kami yang dizalimi....lebih menghidupkan hidup dengan keluar dari kenyamanan diri untuk lebih berbuat apa yang kami mampu, serta memanjatkan doa-doa ke langitMu, izinkan Engkau ijabah Ya Rahman, Ya Rahim...Juga sebagai cobaan ketika kami ingin dimasukkan ke dalam golongan beriman. Semoga Engkau kuatkan kami, Ya Allah Rabb kami, Ya Aziz...Tentunya hanya engkau yang Maha Haqq atas segala ketetapan kejadian di dunia ini.

Dan tak lupa rasa syukur aku terbangun di tanah yang azan masih berkumandang  dengan bebas dan indah...burung-burung masih berkicau menemani pagi, udara murni masih kami miliki. Dan sungguh memalukan diri ini ketika masih mengeluhkan hal-hal kecil, sementara di sana di negeri-negeri yang dizalimi, saudara-saudara kita berjuang demi nyawa, wanita-wanita yang diperkosa, anak-anak yang dianiaya, dan segala yang tak sanggup kutanggungkan bahkan melihat foto-fotonya saja, tubuh melunglai, ruh berasa terbang tak berdaya...

PondokCinta, Darussalam 16 Desember 2016

*******

*Selalu teringat sajakku ini yang kutulis saat terjadinya Konflik Aceh 2003, dan kutulis lagi untuk Palestina di blogku : Putirenobaiak

https://putirenobaiak.wordpress.com/2009/01/14/doa-saja-tak-cukup/

PUISI PAGI DI TANAH KONFLIK
Puisi pagi adalah salak senjata
jerit anak-anak dan wanita
Puisi pagi adalah elegi dan darah dan darah…
panas dan gerah
ketika kasih tak lagi punya makna
Puisi pagi adalah nyeri hati
dan diriku yang bisu, beku, kaku
sebab tak mampu melakukan apa
Tuhan, aku kehilangan kata
Tuhan aku kehabisan doa.

BNA-Kontak senjata, 4 July 2003

.
Kutipan dari tulisan lalu;

"...Mungkin penderitaanku dulu waktu konflik Aceh tidak sebanding dengan apa yang dialami saudaraku di Palestina, tapi aku tahu bagaimana rasanya lari ditengah terjangan peluru. Harus tiarap ketika ada kontak senjata, pergi ke pantai dambaanmu, dan bertemu mayat. Atau tiba-tiba terbangun Subuh, di depan rumahmu orang membuang tubuh-tubuh tak dikenal, yang hancur, remuk. Dan melihat saudara dan temanmu sendiri di hajar orang-orang tak berperikemanusiaan. Itu baru sedikit. Belum lagi penindasaan, pemerkosaan, harta, tanah yang dijarah. Apa kau pernah mengalami itu? Dan tsunami misalnya, kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya ‘dihajar’ tsunami kalau tak ada disitu. Jadi jangan mencela, mendingan diam kalau tak peduli! Hatiku sakit..."



Tuesday, September 20, 2016

Monday, September 19, 2016

Sastra yang melembutkan hati, keseimbangan jiwa dan Andrea Hirata.


Kuberitahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dari perjalanan menggapainya

(Andrea Hirata--Maryamah Karpov)



Minggu lalu nonton ulang Film Laskar Pelangi di TV, jadi rindu baca novel. Lamaaa banget aku gak baca-baca novel lagi. Kalau baca macam-macam sih harus setiap hari, membaca bagiku adalah kebutuhan dan relaksasi.

Sejak kecil aku kegilaan membaca novel, mungkin sudah ratusan novel dalam dan luar negeri yang aku baca. Baca novel, khususnya sastra, sesuatu banget bagiku. Kalau kata temanku sastra itu melembutkan hati. Jadilah aku baca ulang lagi novel Laskar Pelangi, baru Buku ke-1 sih ya, dan nggak seperti dulu aku bisa menamatkan satu novel setebal 500 halaman lebih hanya satu hari...sekarang belum separuh sejak beberapa hari lalu, waktunya sempit, mataku juga nggak tahan lagi lama-lama memelototi huruf.

Kalau baca tulisannya Andrea Hirata, rasanya tak mau melewatkan satu hurufpun, menurutku, dia satu-satunya penulis Indonesia yang paling ajaib cara menulisnya, bisa bikin ketawa sendiri, haru-biru, puitis, romantis, kadang diam-diam sabak mataku. Setiap kata adalah makna yang berharga...wuih segitunyaaa. Memang aku ngefans berat pada caranya menulis, kelihatan kalau penulis ini cerdas dan punya pengetahuan yang luas plus rasa sastra yang tinggi. Walaupun pada keterangan di novelnya disebut dengan “Cultural Literary Non-fiction”, entahlah kenapa disebut begitu.  

Aku sering mengingatkan anak-anakku agar mau membaca novel dan/atau karya sastra yang bermutu, ketiga anakku malas membaca novel, sukanya baca komik, nge-game dan nonton film. Walaupun mereka baca novel klasik (pengertiannya yang dicetak, bukan e-book), nggak tamat-tamat tuh bacanya. Kalau kata si Sulung zamannya sudah beda, anak-anak sekarang bukunya e-book, electronic book. Baca-bacanya di gadget. “Lha mama juga tau kaleee,” kataku. Walaupun kalian berasal dari Generasi Z dan mama dari Generasi X, gak ketinggalanlah. Malah kami lebih beruntung dapat menikmati sekaligus perkembangan teknologi mulai dari TV hitam putih, kamera yang pakai film, mesin ketik yang kalian tidak mengenalnya, dsb yang kuno-kuno. Sedangkan kami beruntung  juga bisa menikmati era digital, cyber, internet sekarang ini.  Baca karya fiksi itu nak, kataku, mengembangkan imajinasi lebih daripada nonton, beda dengan nonton film, ada efek “buzz” ke adrenalin dan hormon endorfin, serotoninmu,dsb.

Kalau dari novel-novelnya Andrea Hirata, aku merasakan sekali indahnya petualangan di alam, ini yang sering aku “hasut-hasutkan” kepada anak-anakku, hiduplah dengan seimbang nak, antara dunia digital dan alam sekitar yang indah, menenangkan batin. Aku mau mereka mencintai alam, seperti ortu-nya ini yang betah sekali di hutan rimba ataupun kampung-kampung yang sepi. Mengingatkan akan yang empunya alam, Allah Sang Maha Indah.

Intinya, hidup itu harus seimbang, jangan tenggelam dengan teknologi digital saja, bacalah juga karya-karya sastra bermutu,  yang belum ada e-booknya di perpustakaan konvensional, atau darimanalah. Walaupun buku memerlukan pohon untuk membuatnya, buku-buku bermutu menyumbang banyak untuk perbaikan generasi. Ilmu coy, ilmu! Bukankah ilmu menggairahkan? Buku juga memperkaya jiwa. Jadi nggak sia-sia pohon mengorbankan dirinya.

Untuk anak-anak Mama tercinta;
Bang Ufi, Bang Uqan, Adek Naysa serta Pencinta Sastra & Alam.

PondokCinta Darussalam, 21 September 2016
Tulisan lamaku tentang Andrea:
http://putirenobaiak.blogspot.co.id/2008/09/andrea.html

Thursday, November 26, 2015

Sungguh engkau hidup dalam kalbuku...Dan disana disisi Maha Cinta....

Sungguh engkau hidup dalam kalbuku...Dan disana disisi Maha Cinta....

Lama pikiran untuk menuliskan tentang kematian—sesungguhnya kehidupan juga—ada dalam benakku. Entah kenapa setiap mau menulis ada yang terasa berat, saat ini aku tekadkan menulis, dipicu oleh kejadian wafatnya teman beberapa waktu lalu, dan istrinya juga temanku. Membuatku merenung lagi tentang kematian.

Tak ada yang pernah siap untuk ditinggalkan orang terkasih, apakah pasangan hidup, orang tua, anak, dsb., tetap saja semua datang tiba-tiba, mengejutkan dan meluluh lantakkan hati. Sejujurnya aku turut menangis membayangkan sedihnya temanku yang kehilangan suaminya, merasa malu karena tak bisa membantu, menghibur, entahlah apa kata-kata bisa membantu. Aku sendiri tak sanggup membayangkan jika itu terjadi padaku. Hanya doa-doa yang mampu aku panjatkan kelangitNya.

Kehilangan Ibu sembilan bulan lalu, merupakan kesedihan terdalam dalam hidupku. Pernah aku kehilangan 2 nenek, (2 kakek sudah tiada, gak pernah jumpa), dan saudara-saudara lain, tapi waktu itu aku masih kecil, tak begitu dalam memaknai kematian. Deraan kedua yang pedih adalah waktu tsunami, ketika menyaksikan ‘kiamat’ kecil yang tak sanggup digambarkan kata-kata...

Kematian begitu menyentak kesadaran yang  membuatku banyak berfikir, berfikir, berfikir...tafakur, tadabur, dan mengevaluasi segala hal yang sudah berlalu dalam hidupku. Hal utama yang aku rasakan betapa waktu  berlalu tak terasa. Aku masih punya rencana-rencana buat beliau, sebagiannya sudah kuutarakan, mengajak beliau tinggal bersamaku, tapi kehendak Allah berlaku. Bukankah Dia yang Haq? Kita hanya bisa punya rencana, belum sempat rasanya membahagiakan beliau, Allah sudah memanggilnya.

Kematian begitu menyentak akan kesadaran betapa singkatnya waktu kita singgah di dunia, sungguh hanya persinggahan sementara. Persinggahan yang melenakan, sampai lupa tujuan hidup sebenarnya. Begitu banyak yang ingin diperbaiki dari diri, dan kita tak pernah tahu berapa waktu tersisa. Juga memperbaiki cara mengelola rumah  tangga, mendidik anak-anak, dsb., mau jadi apa mereka, sudah benarkah cara dan jalan yang ku (kami) tempuh selama ini? Mampukah kuraih jalan cinta, yang kan berakhir indah?

Dan waktu jualah yang bisa mengobati luka hati karena kehilangan orang yang kita cintai. Apapun saran bisa kita terima, tapi luka tetap membutuhkan waktu untuk sembuh. Sabar, ikhlas, memang kuncinya, namun tak semudah mengucapkannya.  Awal-awal kematian begitu menyentak diri, selain tafakur dan tadabur, aku banyak baca buku-buku, search di google tentang alam barzakh, kemana, dimana jasad manusia berada menurut Islam, dsb. Ada yang kuingat ketika seorang temanku, datang melayat, dia begitu siap akan masa depan. Aku terkaget, plus kagum waktu dia bercerita dia bahkan sudah siapkan kafan dan kain panjang di rumahnya, sudah berpesan-pesan pada anak-anaknya. Betapa sebenarnya itu tindakan paling logis yang seharusnya kita lakukan? Sejak kecil kita mungkin sudah tahu  dari guru agama bahwa yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Lalu mengapa takut membicarakannya dan mempersiapkannya? Aku sendiri merasa lalai dan abai...

Kemudian yang juga sangat kuingat adalah saat Amai dan Mamakku berkata, “Anggaplah Ibu masih hidup bersama kita, seperti yang kami lakukan untuk Andi.” Andi adalah anak Mamakku (Oom) yang sudah wafat di usia muda.

Membaca banyak referensi, akupun akhirnya sampai pada pemahaman, bahwa beliau, Ibu yang aku cintai masih hidup di sana, di suatu tempat indah disisiNya, di Barzakh, dan tentunya di hati orang-orang yang mencintainya. Ini bisa mengurangi kesedihan, sekarang lebih kepada keikhlasan dan mengirim doa-doa untuk beliau. Semoga Allah memudahkan aku juga bisa mengirim kebaikan. Semoga engkau perkenankan segala doa-doa untuk beliau Ya Rabb... Maha Cinta.


PondokCinta Darussalam, 26 November 2015

PadaMu

Satu 

Aku berhenti pada batas
terdiam merenung
kemana arah langkah

Aku tak tunduk pada rasa
juga tak mengandalkan hanya logika 
limbung menyeimbang gamang
menyebut-nyebut namaMu

Hasrat merayu
aku kelu
demi secercah cahayaMu, 
aku tunduk
menghamba


Dua 

Getar, gemetar berbaur
amarah, sayang berimbang
aku belajar memahami diri, kemanusiaan 
dia, aku, mereka

Ya Rahman, Ya Rahim,
bebaskan ku dari letup
degup jantung
api dendam
benci membara

PadaMu yang jiwaku dalam genggamanMu
aku serahkan segala ruh segala tubuh

pada sepertiga malamMu ya Qudus, jauhkan aku dari hal yang mempersingkat jarak 
antara Engkau dan aku


RumahCinta, February 17, 2010

Wednesday, November 25, 2015

Pulang

Satu

Kali ini pulangku yang kesekian

usai perjalanan, lelah, hati berdarah

didera luka kerna tualang

gamang, menimbang langkah

resah gundah gulana kubawa

kepadaNya jua kembali jiwa

Tak jera kelana kuarung jauh

hanyut dalam aliran takdir

yang kadang tak kumengerti dalam kesempitan pikir

pulangku kembali dalam zikirku kan kasih, damai terindah

di haribaanMu, Sang Pemurah

Hampir mendekat langkah sudah

kucium wangi kembang di gerbang

sungguh serasa seluruh ruhku bangkit kembali

memacak gairah di jantung, mengukir senyum

terbang segala bimbang, gamang pergi

Pada sajadah baur segala isak

tumpah segala rasa, ruah segala rindu

lega beruparupa dahaga

haus jiwa, kupuaskan, mencoba meraih cahaya

Engkau Sang Cinta

dekaplah, dalam setiap helaan nafas, tak ingin kuberakhir

senantiasa rindu menderu-deru

tak ingin lepas sedetikpun waktu.

Dua

Kembara

kemanapun langkah

mencari arah

merambah belantara

mencapai gunung

menyeberangi samudera

langlang buana

ke mayapada

diri kembali kedalamku

menyadari adaMu

di sini. di setiap inti sel tubuh

memagut utuh ruhku

jiwa kembali padaMu semata

tubuh luluh pada penghambaan

fitrah al-insan.

RumahCinta, Ayahanda Medan, 17 Januari 2010

Sajak yang diam sungguh tak diam

sajak
lama tersimpan
beriak terpendam
diam

kadang kata mesti dibiar tak bersuara, tak berupa
biar bertapa di dalam
meredam rasarasa
meredam barabara
mendiamkan gejolak amarah
kembara ke semesta
kelana mengarung mayapada
melarung luas samudera

mengendapkan kotoran
hingga tertinggal bening
dan hening
yang tak diam
bicara sungguh ia
dengan Sang Pencipta kalam

RumahCinta, 9 January 2011


Sang Indah


Sunyi bersamaMu begitu indah, Kekasih

ingin kusimpan sendiri tak berbagi

namun cintaMu luas tak berbatas

Insan merintih, mengadu segala sesak, segala tangis,

isak bermuara padaMu semata

tertatih meraih Cahaya cinta


Bahkan dalam sesat jalan masih kami, mereka teriakkan namaMu,

kubayangkan Kau senyum saja


Ampuni kezaliman, kebodohan, luluh aku di altar penghambaan

Izinkan kunikmati indah rasa tak terperi

tak mampu kuwujud walau hanya dalam mimpi

RuangBiru, 26 Nov '09  


***Posting ulang puisi lama yang belum sempat di dokumentasi. 

Tuesday, November 24, 2015

Kejujuran menulis, menuliskan kejujuran

Kejujuran menulis, menuliskan kejujuran

RE-POST TULISAN LAMA

Pikiran ini hadir ketika bertualang di dunia cyber, dan ngobrol dengan sahabatku mengenai banyaknya orang yang tak peduli dengan etika mengambil tulisan orang lain di internet. Aku menemukan banyak hal yang membuatku kadang tersenyum-senyum sendiri. Berbagai ekspresi, informasi dan berita apapun ada di dunia maya ini, tinggal kita mau memilih dan memilah yang mana mau dilihat, dipakai atau dipercaya. 

Ada yang menimbulkan tanda tanya di benakku tentang kejujuran dalam menulis. Benarkah paranetter, blogger, facebookers,’buku-ers’ apapun sebutannya, telah menulis dengan jujur apa-apa yang diceritakannya tersebut? Jawabnya pastilah relatif ya, tergantung orangnya dan kejujurannya. Aku menemukan puisi temanku di copy paste utuh, (sudah lama), dan tak ada penyebutan nama sumber. Waktu kutanya pada temanku, katanya, “biar sajalah, aku bukan siapa-siapa, berarti ada yang suka tulisanku senang saja.” Itu bagi orang yang memang tidak mempermasalahkannya, tapi bagaimana kalau yang bersangkutan tidak suka dan merasa dirugikan karena hak ciptanya di langgar (walau tak terdaftar)? 

Ada juga yang dengan bangga mengutip lirik lagu dan memasukkannya di sela-sela tulisannya tanpa menyebut sumber, atau mengutip baris-baris kata di buku, tanpa malu-malu. Dan turut bangga ketika pembacanya berkomentar dan memuji dia sebagai penulis hebat misalnya; “Waahh kamu emang piawai ya menulis, waah kau benar-benar pujangga!” Tak ada penjelasan dari yang dipuji, larut dalam kebanggan palsu. Itu berlaku juga terhadap hasil cipta yang lain, misalnya foto dan musik (lagu).

Ada penulis yang memanfaatkan orang lain dengan memakai hasil survei, riset atau wawancara yang dilakukan orang lain untuknya. Ini kudapatkan dari berbincang dengan seorang teman Dosen. Sayangnya tak banyak yang mau mengakui bantuan orang lain tersebut dengan menulis sesuai etika kutipan, apalagi kalau yang karyanya dimanfaatkan hanyalah orang-orang tak berdaya misalnya ’penulis bukan siapa-siapa’, ataupun mahasiswa binaan.

Memang sih sekarang ada UU ITE yang masih kontroversial itu, yang bisa saja digunakan sesuai kepentingan masing-masing orang. Begitulah yang kulihat fenomena penegakan hukum di negeri ini. Namun menciplak, mencuri utuh ataupun sebagian tulisan seseorang (plagiat) bukankah hal memalukan? 

“Jadi kalau seseorang menulis fiksi nggak jujur begitu?” tanya seorang temanku.

Jujur yang kumaksudkan adalah asli karya kita sendiri, kalaupun ada kutipan yang perlu dari suatu sumber, tentulah dengan menyebutkan sumbernya.

“Fiksi itu adalah jenis tulisan teman, ” kataku. Fiksi bukan berarti bohong, fiksi adalah kelebihan manusia dengan daya imajinasinya yang tidak dimiliki makhluk lain, justru media berekspresi yang membebaskan manusia bisa menjadi apa saja yang diinginkannya. Walau fiksi jenis apapun pasti dilatarbelakangi oleh keberadaan si penulis sendiri yakni, pengetahuannya, pandangan hidup, pengalaman, daya khayal, impian, dsb. Namun aku setuju kebebasan manusia adalah kebebasan terbatas yang tidak boleh melanggar hak makhluk lain.”

“Maksud kamu?” 

“Ada orang yang berteriak-teriak tentang kebebasan menulis, tapi dia lupa tulisannya melanggar hak-hak orang lain. Seberapa jauh pelanggarannya tentunya hukum yang menentukan, namun selain hukum formal ada etika, ada rasa, ada nurani,” kataku sok filosofi. 

“Manusia itu,” lanjutku, “mesti dibatasi aturan, itulah hukum Sang Pencipta, sebab DIA yang tahu bagaimana kondisi-situasi makhluk ciptaanNya. Dengan kemampuan kemanusiaan yang terbatas, manusia bablas kalau tak dibatasi. Lha ada dinding saja kita sudah nggak bisa melihat apa-apa, bagaimana bisa memiliki kebebasan mutlak?” 

Ada yang mengidentikkan menuliskan kejujuran adalah menulis tanpa batasan. Aku tak setuju. Jujur taklah sama dengan terbuka, bagiku di dunia ini ada hal-hal yang tidak boleh dituliskan, yakni aurat diri, rumah tangga, orang lain apalagi aib. Justru itulah sekarang yang banyak dituliskan dan dijual orang dengan bangga. Bagiku, sebagai muslim upaya untuk hati-hati ’melepas’ setiap kata saat ini begitu terasa. Entahlah mungkin karena aku semakin tua, sebab kupercaya kata adalah doa, kata menyerap ke ruh, tubuh, pikiran, mengirimkan efek energi ke semesta, ke udara yang kita hirup, air yang kita minum, bumi yang kita pijak, ke energi yang menyelimuti komputer yang kita pakai misalnya...kemudian akan mencapai kehendak-kehendak dalam diri, yang pastinya seizin Sang Pemilik Kehendak.

”Itu mirip-mirip yang ditulis buku The Secret ya?” tanyanya lagi..

”Sebagiannya disitu sobat, sebagian besar ada di Al-Quran, buku-buku pencerahan, terakhir yang aku baca buku-bukunya Ustadz Yusuf Mansyur, lalu juga penelitian-penelitian ilmiah misalnya ”The True Power of Water”-nya Masaru Emoto, kisah-kisah Sufi, dsb. Dari kisah-kisah Nabi dulu, diajarkan bahwa semesta bertasbih kepada yang Kuasa. Sebab itu, jangan sembarangan melepas, menulis kata-kata makian atau kutukan...Akan beredar energi negatif yang banyak disekitar kita. Kalaupun ada yang ingin disampaikan sebagai kritik, lakukan dengan santun dan tertutup. Mungkin itu lebih baik. Bisa saja Indonesia jadi begini karena begitu banyak hujatan terlontar ke semesta, pastinya di negeri tercinta ini oleh rakyatnya sendiri.”


Pikiran-pikiran spiritual serupa di atas begitu banyak mempengaruhi diri seiring berkurangnya jatah hidup (bilang aja tua gitu hehe!), aku jadi terlalu banyak berpikir bahkan sekedar meng-uploadtulisanku di blog—atau mengisi status di facebook—jadi jarang. Padahal aku banyak sekali menulis. Selalu menulis, seminimalnya mencurahkan keresahan jiwa, menuju lega. Sebab aku tak mau melepas tulisan yang hanya akan jadi tulisan sampah saja (setidaknya menurutku sendiri). Apalagi tulisan yang akan membawa dosa bagi diri, apalagi bagi orang lain (emangnya selama hidup belum cukup banyak dosa?). Sebenarnya lebih sebuah kritik diri, selama ini aku masih suka jutek dan bisa berkata-kata tajam bak rencong, justru beraninya ke orang-orang terdekatku, atau pada kondisi toleransi diri sudah habis jika diperlakukan tidak adil. Inipun perlu kupertimbangkan lagi. 

Sampai dimanapun kemampuan kita, menulis dengan jujur sangat penting menurutku, sebagai upaya memperbaiki diri. Akhirnya memang semua dikembalikan ke nurani kita masing-masing, sebab jujur itu tak pernah ketinggalan zaman, selalu bersih dan disukai.



RumahCinta, Ayahanda Medan, 23 Januari 2010

Saturday, November 7, 2015

Mencari orang baik

Mencari orang baik

Sempat ngedumel sama mahasiswi yang berkendara sepeda motor melawan arah hampir menabrakku pagi ini, dia cuek aja. Hal-hal yang sangat-sangat biasa dalam keseharian orang Indonesia ini mungkin. Dianggap kecil. Benarkah kecil? Padahal bisa menghilangkan nyawa orang lo! Banyak berita tentang betapa kacaunya lalu lintas kita, pemakai jalan yang tidak disiplin, kurang toleransi, tiada simpati apalagi empati.

Dulu, kalau boncengan sepeda motor atau abang (suamiku) nyetir, dan ada orang-orang yang sembarangan nyalib dsb, pasti aku teriakin hehe...Kalau si abang memang orangnya cool dan sabar, jadi jarang marahin orang. Beberapa tahun belakangan, aku udah nggak teriakin mereka lagi, percuma, sekalian belajar sabar.

Mengamati para pengendara sepanjang hidupku, memang kondisi jalanan yang semrawut bisa menaikan temperatur kepala kali ya...Baik itu teman, kenalan, saudara, rata-rata pada ngedumel kalau nyetir. Aku sih biasanya jadi penumpang saja dan sok-sok jadi pengamat. Kadang ada yang ngomelnya parah banget sampai memaki-maki, astagfirullah...Bahkan sahabatku yang terkenal pendiampun, kalau nyetir jadi bisa ngomel. Dari pengalamanku yang paling cool itu nyetirnya adalah sahabatku sang musisi ini, yang baik hati antar jemput aku waktu pulang kampung kemarin. Nggak pernah ngedumel dan tenang banget.

Kalau ke Medan dan pergi dengan adikku yang nyetir, juga sering kita mendiskusikan betapa kacaunya kondisi lalu lintas di sana. Sulit sekali mencari orang yang baik di jalanan, yang mau bertoleransi dan bersikap disiplin di jalan raya. Sebagian besar mengedepankan ego. Sepertinya sama saja dengan di Banda Aceh sini, di Padang, di Jakarta, dan tempat-tempat lain di negeri ini (dari yang aku alami dan info media). Sedihnya lagi kata adikku, kalau ada kecelakaan orang-orang malah tega berselfie-selfie ria di dekat lokasi, tanpa sedikitpun empati terhadap korban. Dia melihat sendiri. Begitu juga kalau ada musibah lainnya seperti kebakaran, yang mereka lakukan selfie! Jadi ingat waktu tsunami, ketika berhasil nyebrang dari Sabang hari keempat pasca tsunami, aku mendapati “kiamat” mulai dari pelabuhan Malahayati sampai Darussalam, kehancuran luar biasa, mayat-mayat. Terlintas ingin memotret, tapi hatiku dan mataku tak sanggup melakukannya, hanya diam, nangis di dalam. Memang nggak berbakat jadi jurnalis kali ya...

Begitu juga kalau kita berada di tempat-tempat umum, yang sangat menjadi concern-ku adalah sampah. Bahkan di halaman Mesjid Rayapun banyak yang seenaknya buang sampah. Kalau olah raga pagi/sore sekeliling kampus Universitas Syiah Kuala-Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, sampahlah yang sangat mengganggu. Mahasiswa/i yang duduk-duduk nyantai di pinggir lapangan seenaknya buang sampah sembarangan. Pernah aku tegur baik-baik, mukanya masam. Sama saja dengan yang merokok di tempat-tempat/kendaraan umum, kalau diingatkan malah balik memelototi kita.

Belum lagi toleransi ‘kecil’ seperti ngantri dengan teratur, menolong orangtua, Ibu hamil, anak-anak dsb., yang kesulitan di jalanan, jarang banget.

Lalu, betulkah nggak ada lagi orang baik di negeri ini? Masih, memang masih ada orang-orang yang peduli, tapi itu keajaiban, dan jumlahnya sedikit? Pertanyaan itu yang muncul di benakku setiap kali kesal dengan orang-orang tak peduli di sekitar kita.

Namun didalam kalbu aku yakin, masih banyak orang-orang yang baik kok, apalagi kalo dipikir saat hati tenang, selama ini, ketika ada musibah atau kesulitan masih banyak yang menolong. Rata-rata sih yang memang kita kenal dekat. Sulit mencari orang yang mau menolong tulus, orang yang tidak dikenalnya.

Lalu? Sebuah jawaban telak mestinya menghujam diri kita sendiri. Sudahkah kita (diri sendiri) baik? Peduli, simpati, empati? Jangan-jangan kita (aku) juga tidak baik.

Catatan Pagi, PondokCinta Darussalam, 5 November 2015.

Terdera As-Syu’ara'


Terdera As-Syu’ara'

Pernah beberapa tahun aku tidak menulis, kalaupun ada, sangat sedikit sekali dan tidak aku upload di blog maupun di Note Facebook. Ada teman-teman bertanya kenapa nggak menulis lagi. Jawabku ya karena sibuk dengan parasaian iduik (suka duka kehidupan)--gak tau sinonim dalam bahasa Indonesia apa ya? Kadang jadi malas keterusan, karena fokusku berpindah. Padahal dulu, saat sangat sibuk baik di kantor maupun di rumah, aku malah banyak menulis, memanfaatkan sela-sela waktu luang yang sempit. Semakin sibuk, semakin banyak pikiran di kepala, semakin banyak yang ingin aku tumpahkan di tulisan. Ya itu seperti yang sering aku tulis, bagiku nulis utamanya detoksifikasi. Mudah-mudahan juga bisa bermanfat untuk orang lain.

Tapi ada alasan yang tidak kukatakan pada teman, yaitu perasaan bahwa tulisan-tulisan itu useless semua. Begitulah, aku terperangah ketika suatu hari membaca entah dimana (maaf lupa penulisnya), bahwa apapun pekerjaan/karya kita termasuk tulisan  tentu akan  kita pertanggungjawabkan nanti kepada Allah, apalagi itu kalau membuat dosa. Royalti kita akan dibayar nanti di neraka, mau?

Aku benar-benar tersentak, dulu aku sempat kagum kepada beberapa penulis perempuan yang punya gaya bahasa yang sangat-sangat gaya, sangat nyastra, berani, menggugah gairah, kadang-kadang malah kebablasan dan  kasar. Aku setuju-setuju saja kepada pujian yang ditujukan kepada mereka oleh beberapa ulasan di media bahwa itulah gaya yang paling top untuk penulis, yakni bebas tak berbatas. Bahkan mereka ada yang dapat penghargaan sastra. Oh aku benar-benar pemuja sastra itu! Eh dulu.

Maaf untuk penulisnya—tentu nggak etis kalau ditulis namanya--kalau kukatakan kemudian aku menganggap tulisan-tulisan itu sampah, lebih sebagai racun tak berguna yang tak bisa didaur ulang, walau dimana-mana orang memuja-muja tulisan mereka. Sebagai pencinta lingkungan, aku tidak membenci sampah kalau masih bisa didaur ulang, begitu juga dengan ‘sampah kepala’ yang bisa buat pelajaran hidup.

Aku berhenti membaca  bacaan-bacaan semacam dan menggantinya dengan bacaan-bacaan yang insya Allah bisa menuntun kita menjadi lebih baik. Amin. Hanya  upayaku, bukan sok alim. Apalagi kemudian ketika tafakur dan tadabur ditampar kesadaran pada syurat As-Syu’ara' 224-227’:

224
وَالشُّعَرَاء يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ
Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

225
أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ
Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,

226
وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ
dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?

227
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيراً وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ
kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

*Ayat 225, maksudnya mengembara di lembah-lembah ialah bahwa sebagian penyair-penyair itu suka mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan dan pendirian tertentu yang baik.

Sebelumnya aku nggak begitu berani mengutip-ngutip ayat, tapi demi  belajar, aku copas suratnya di sini, semoga dijauhkan dari sok tahu dan ria.

Belum lagi kalau dipikir-pikir, kadang dalam tulisan ada kebanggaan-kebanggaan tersembunyi yang ingin kita pamerkan, bagaimana kalau ternyata itu hanya wujud kesombongan semata? Begitu juga dengan meng-upload foto-foto di media sosial, aku selalu dihantui pertanyaan; apakah itu suatu pamer-pamer yang berujung ujub ya Rabb? Menulis tanpa sombong, aku banyak belajar dari tulisan sohibku di Rumah Kayu, Dee dan Fary, yang menurutku, kalau mereka mau, banyak yang bisa dibanggakan dari kehidupan mereka, tapi mereka tak melakukannya.

Demikian juga dengan hobiku mendengar musik, aku mulai memilah-milah yang mana sebaiknya di dengar agar tak jatuh ke dalam mendengar yang haram, ada perbedaan pendapat ulama mengenai halal haramnya musik, bagi aku memilih yang tidak bertentangan dengan hukum-hukumNya. Siapa bilang musik yang menyebabkan orang jadi berjoged-joged mesum itu musik yang baik? Atau teler kaya I-Doser ini? Al-Imam Gazali salah seorang Imam yang membolehkan mendengar musik-musik yang baik (Ringkasan Ihya’ Ulumuddin hal. 194-199).

Dengan menuliskan ini hanya untuk mengingatkan diriku, bukan untuk menghujat-hujat orang lain.  Agar on the right track  always. Selalu berada di Jalan cintaNya yang kadang berliku, terjal dan tajam, namun untuk keindahan akhir tiada tara...

PondokCinta Darussalam, 5 November 2015




Monday, October 19, 2015

I Doser, bikin teler, game dan pornografi yang bikin candu

Kemaren malam anakku menghidupkan TV, ada talkshow di sebuah TV swasta mengenai I-Doser. Sangat mengagetkan sekali isi talkshow ini mengenai bahaya I-Doser. Ada pembicara dari BNN dsb. Sayang acaranya sudah hampir berakhir, jadi aku tak memperoleh info yang komplit. Tapi dari yang kutangkap, semua menganggap aplikasi ini berbahaya. Terlambat banget aku tahu ya. Penasaran aku search apa itu I-Doser, beberapa link aku taut di bawah. Link I-Doser.com sendiri sudah diblokir DEPKOMINFO.

I-Doser adalah aplikasi yang memproduksi gelombang otak Binaural yang bertujuan untuk memanipulasi suasana hati. Dari berbagai sumber, dikatakan ini bisa berefek seperti narkoba kepada pemakainya/pendengarnya. Memang bukan dalam bentuk  fisik. Seram  kan. Suara binaural adalah dua nada yang mengalun dalam frekwensi nada di bawah 1,00 Hz. Ditemukan  pada tahun 1839 oleh Heinrich Wilhem Dove, yang dapat digunakan untuk meditasi, relaksasi dan kreativitas.

Ada banyak terapi yang ditawarkan dengan metode binaural beat ini, dijanjikan baik untuk mengatasi berbagai keluhan seperti yang di tulis di sini, namun sebaiknya kita check dan re-check dulu apakah memang aman dan benar, bagi muslim sepertiku apakah tidak melanggar akidah Islam. Bisa saja suatu ilmu yang dasarnya baik di “plesetkan” atau digunakan untuk keburukan oleh orang-orang yang hanya mencari keuntungan.

Selain yang memberi warning bahaya aplikasi ini, ada juga yang masih membela alias pro, dan ada yang kontra. Aku lebih setuju dengan yang melarang, di Amerika saja pemerintahnya melarang aplikasi ini (menurut sumber di sejumlah sekolah sih...). Begitu juga di Qatar.

Jadi yang promosi bahwa efek I-Doser itu tidak bahaya, aku tak yakin. Musik, suara, dalam Islam sudah dijelaskan akan membawa pengaruh terhadap jiwa kita. Dulu zaman-zaman masih remaja, agar bersemangat, pagi-pagi aku suka  nyetel musik rock hehe...Ada perbedaan pendapat memang di kalangan ulama tentang halal haramnya musik. Yang kepo ayo rajin belajar, cari sumber-sumber yang benar.

Sudah umum diketahui baiknya efek musik klasik untuk bayi, tapi dari beberapa referensi Islam aku mendapatkan itu tetap tidak baik. Yang terbaik adalah efek mendengarkan Al-quran untuk kedamaian jiwa, penuntun hidup (jika diaplikasikan isi Quran tentunya), bahkan untuk penyembuhan.

Setinggi apapun ilmu manusia, seberapa banyak penelitian dilakukan, masih banyaaak sekali yang tidak diketahui manusia. Sebagai muslim bagiku sederhana saja; melakukan hal yang sia-sia saja kita dilarang, apalagi yang merusak atau perbuatan dosa. Dari beberapa bacaan dan dari TV dulu, aku memperoleh info bahwa  game juga bisa berefek seperti kecanduan, bila pemain larut dan  dikuasai oleh game-game  tersebut. Ada pusat pengobatan Thibun Nabawi yang banyak menangani anak-anak kecanduan game ini yang efeknya sangat buruk pada perilaku mereka. Sangat mudah juga mendapatkan info dari berbagai media termasuk TV yang mendiskusikan efek kecanduan game ini dari sudut pandang para ahli. Di rumah nyinyirlah aku dan suami menasehati anak-anak agar tidak dikuasai game. Hari gini melarang anak-anak abad 21 main game dan ngenet? Mustahil rasanya, kita harus maksimal memandu agar mereka memanfaatkan internet dan game dengan baik pada proporsi yang tepat dan konten yang benar. Sulit sih...

Selain itu aku juga pernah mendapat info dari TV swasta, seorang psikiter mengatakan bahwa menurut penelitian kecanduan pornografi sama buruknya, beberapa bagian otak akan rusak, sama seperti yang disampaikan di situs ini.


Info lain bisa di cari sendiri dengan bantuan uncle google  yah.



RumahCinta Darussalam, 19-20 Oktober 2015

Friday, October 9, 2015

Hilanica, our favorite flower

Hilanica, our favorite flower



This is my favorite flower, we called it Hilanica, or Melati Bali. However I cannot find any suitable name, or its real Latin name in internet. I have tried to search several times, no result. Anybody know its name?

My husband firstly saw this flower in someone’s house when we lived in Medan (North Sumatra) one day. He never saw this kind of such beautiful flower before. He then asked the owner to buy the seed. Fortunately, he kindly told my husband that he did not want to sell it, however, my husband could make the graft from its mother stem. He told that this could only developed by grafting it.

It takes long times enough to wait for a new grafting to grow. After several months (I didn't remember), we finally could grow it at our garden. After a long wait (around two years) we were given a very beautiful blossom like this.



Growing flower, could give you happiness J









Friday, November 13, 2009

Posted by Picasa

Thursday, March 12, 2009

Menggapai Bahagia

melati-bali

”Apa sih ukuran kebahagiaan itu? Apakah kelimpahan materi, istri yang cantik, selalu shalat, atau apa? Aku tak tahu,” kata seorang teman suatu hari.

Bagi aku pertanyaan itu cukup mudah untuk dijawab, sebab jawabanku sederhana. Namun bagi orang lain bisa saja jadi rumit, seperti banyak hal di dunia fana ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang relatif, yang senantiasa harus diusahakan.

”Bagiku kebahagiaan itu adalah berusaha setiap saat merasa nyaman dan damai dengan diriku dan membuat orang-orang yang aku cintai juga begitu.” Sepertinya agak ego, sebab buat orang-orang yang tidak aku cintai aku cenderung cuek...hehe...tapi setelah keluarga dan sahabat-sahabat terdekat, yang aku cintai termasuk orang-orang yang cinta damai, tak merasa ekslusif sendiri.

Beberapa kali ngobrol dengan Uur tentang orang-orang yang kadang menyebalkan, berusaha menimbulkan kesulitan dalam hidup orang lain karena iri dengki, ingin menjatuhkan, bahkan memfitnah, dsb...Aku menjawab, ”Anggaplah saja mereka hanya debu, yang akan luruh jika kau tepiskan.” Dan Uur menyambung, ”Iya Uni, akan bersih dengan wuhduk,”

Insya Allah ya adiak...Si abang juga sering menyuruhku berwudhuk kalau memang lagi butek. Keruh bak sungai di kota-kota besar, biasanya sih kalau PMS :D

Jika ukuran kebahagiaan adalah pemuasan ego dan nafsu, maka kamu tak akan pernah mendapatkannya.

RumahCinta-Ayahanda Medan, 2 Maret 2009

Tuesday, March 3, 2009

Walaupun kesal, berharaplah!

Walaupun kesal, berharaplah!

Bagaimana ya rakyat bisa tersentuh hatinya oleh iklan-iklan partai yang kebanyakan malah ‘mengotori’ pohon-pohon, tiang-tiang listrik, dinding-dinding–apa saja–di kota? Aku terganggu sekali oleh pemandangan itu. Alih-alih jadi tertarik, aku malah sebel ngeliat tampang entah siapa yang dipajang asal-asalan, dimana bisa nempel…Wajah-wajah yang kebanyakan tidak dikenal, tiba-tiba semua ingin jadi pahlawan pembela rakyat & tanah air. Tapi biasanya kalau orang yang ihklas berbuat memang tak butuh dikenal sih ya…Kalau perlu saat tangan kanan melakukan, tangan kiri tak perlu tahu dan sebaliknya, bukan?

Puncak kejengkelanku adalah tadi malam, baru saja pulas, tiba-tiba kaget sekali mendengar orang berteriak-teriak lewat jam 12.00 malam. Langsung aku, abang dan Ufi berlarian mengintip dari ruang tamu. Huh ternyata…pemuda yang nongkrong di salah satu rumah yang disewa partai dekat rumahku, mabuk-mabukan. Sudah beberapa kali aku ngomong ke suami, alih-alih mempesona rakyat, orang-orang itu malah memperburuk citra lembaganya sendiri. Bolehlah disebut oknum, tapi sejak rumah itu ada, aku sebel banget, mereka sering menyetel musik keras-keras seenaknya, menempel gambar-gambar partai ukuran besar di pagarku. Kemarin menempel poster jumbo size seenaknya di pohon mangga sehingga tukang sampah nggak bisa menjangkau sampah yang emang di gantung di situ agar tidak diobok-obok hewan. Sudah beberapa kali dibuka si abang, kemarin mereka tanya kenapa dibuka? Dasar gebleg, emangnya ada aturan mereka boleh seenaknya menempel-nempelin iklannya yang tak indah itu, tanpa izin lagi? Kapuyuak….aku tak tertarik sama sekali! Apalagi kalian membuat lingkungan jadi ribut.

Saat harus memilih sesuatu yang akan menentukan masa depanmu, namun pilihan itu tidak ada yang menyenangkan, haruskah memilih? Bah macam kawin paksa zaman Siti Nurbaya saja!

Satu hal yang selalu kulakukan setidaknya untuk menghibur diri sebagai rakyat negeri ini yang sering kecewa adalah, mengendalikan cara pandang, merubah kalau memang perlu, melihat dari hal-hal positif saja. Ketika misalnya politikus banyak yang bikin eneg, berharaplah bahwa selalu masih ada orang-orang yang jujur disana!

RumahCinta, 1-2 Maret 2009

5 Tanggapan ke “Walaupun kesal, berharaplah!”

Belajar berteman

Belajar berteman

Hah!? haree genee belajar berteman?

Dasar pertemanan bagiku adalah respek, menghargai seseorang sebagai manusia. Tak hanya dalam bercintaan, dalam pertemanan aku butuh chemistry yang memungkinkan bisa ’klik’ dengan seseorang, cewe ataupun cowo. Baru setelah itu kasih sayang hehe…Bukan bermaksud untuk ekslusif, tapi entahlah itu naluri saja sih, bisa saja saat pertama kenal seseorang aku langsung ingin menjauh, atau merasa senang.

Pernah aku menghindari teman sekamar di pelatihan yang benar-benar membuatku tidak nyaman, bicara banyak padahal baru kenal, tahu segalanya, plus lagi merokok di toilet, yang akhire aku usir secara halus agar merokok di teras hotel saja, aku bilang aku asma, padahal asmara hehe..sherly-dwi1

Tapi kalau chemistry-nya ’pas’ aku kadang bisa cuek kok dengan teman yang merokok atau banyak ngomong, aneh ya…

Nah ini salah satu teman baru yang ‘klik’ denganku, sayang Sherly harus kembali ke Manado. Duh Sher, sedih nggak jadi ketemu hari terakhir kamu di Medan. Aku udah nungguin di OIC, tapi kamu malah ngejar-ngejar pesawat! Tapi pizzanya enak lho, thanks hik..hiks…Moga kamu juga senang dengan pertemanan denganku, jangan lupa Camp CRU ya! Mbak Dwi! Kamu juga menyenangkan n funny!

Beberapa kali pernah aku tulis bahwa aku ini orang yang tidak gaul, aku agak gagap berteman jika itu dalam satu suasana baru, misalnya kopdar dengan teman-teman baru yang memang belum pernah aku kenal sebelumnya. Kata orang-orang dekatku sih aku ini sedang-sedang saja, tidak pendiam tidak juga ribut, tapi kata suami, aku bisa jadi pendiam kaya tembok kalau terjebak dalam suatu kerumunan yang tidak aku kenal, dan bisa juga jadi cerewet kalau dengan teman yang memang sudah dekat. Makanya aku mohon maaf banget buat teman-teman blogger Sumut yang suka mengundang kopdar, terutama Mas Said yang baik hati, duh aku jadi nggak enak banget, baru sekali bisa menghadiri. Selain sebagai mamak-mamak sok aktivis (basitungkin di kantor, lapangan dan rumah), aku memang gak gaul, gimana ya, maaf banget aku tak nyaman di tengah orang ramai. Pesta, pasar, livemusic, pokonya yang rame-rame, aku kurang suka.

Pekerjaanku belakangan ini memaksaku untuk belajar berteman, sebab sering sekali harus mengikuti program yang melibatkan orang banyak, harus presentasi, dsb. Aku hanya nyaman kalau harus berinteraksi dengan murid-murid TK/SD dan Guru, selain itu, kalau bisa memilih, aku lebih suka sendiri, atau mojok dengan beberapa orang saja. *Oh ternyata suka mojok* :D Kalau berdua sih maunya hanya dengan kekasih.

Bukan berarti aku gak suka berteman, aku senang kalau ada yang mau kenal, datang ke rumah atau ke kantor, sekedar ngobrol, ketawa, diskusi. Insya Allah aku akan sediakan waktu, sebab Tuhan memberikan waktu yang cukup.

foto729Temanku ini yang sudah kuanggap adik, juga salah seorang yang menginspirasi, membuat nyaman memulai hari, sebab dia sering mengirimiku hadis atau ayat Al-Quran via YM, (yang belum tentu sempat kubaca setiap hari-astagfirullah, ampuni aku Rabb…) sebagai pengingat bahwa masih ada Sang Maha Pencinta yang selalu melihat kita.

foto-feb-09-039Nah ini juga teman baru yang baik hati, paling sering bertemu di program konservasi orangutan. Hihi terakhir ketemu saling ledek: ”Yaaa dia lagi…dia lagi…”

Mas Paijo orang yang membumi, biasa kerja dengan masyarakat desa, suka senyum. Pinda Sianturi, juga tukang ketawa, muka damai deh. Kerjanya jauh di Dairi sono. Sesuai permintaan kelen nih aku pajang senyum damai sejagat! Peace!

Tak sempat tentunya kutulis tentang semua teman kali ini, yang jelas kalian semua baik, yang hanya kukenal online walau belum bertemu, rasanya belum ada yang pernah meninggalkan kata-kata buruk. Yah kalaupun ada nanti, aku anggap saja masukan positif dari sesama manusia. Bagiku internet hanyalah sebuah media, aku menghargai semua teman, silaturrahim, berkasih sayang sesama manusia (cieee :D ).

RumahCinta, Ayahanda Medan—24 February 2009

Notes:

basitungkin: sibuk sampai jungkirbalik (hah?! mungkinkah?) — Bahasa Minangkabau

kelen: kalian (Bahasa Medan)

Sunday, February 15, 2009

Usia

Usia

keluarga-sungayang-rev

Aku boleh tergeer-geer ketika ditanya seorang Ibu-ibu baru-baru ini: “Mau kemana dik? mau camping ya? kuliah dimana?” waktu melihat aku bawa ransel, nunggu teman mau bareng ke lapangan di terminal Pinang Baris.

Hihi aku senyum- senyum aja, kegeeran dikira masih kuliah, soalnya sudah jarang yang menyangka begitu, kalau disangka belum menikah cukup sering sih. Mungkin dia pikir perawan tuwir nih orang. Waktu di Aceh sebelum tsunami cukup sering kalau naik Bus Kampus ditanyain kuliah dimana?

Juga pengalaman yang bikin termehek-mehek (ikutan tipi), ditaksir, eh ditanya-tanyain apa bisa pdkt ke temanku waktu ke lapangan. 3 orang lagi. Ya ampyuun….Apa gak liat ukuranku aja udah menyaingi piaraan.

Aku bisa saja jadi gede rasa, tapi suer, akhir-akhir ini malah sering ingat bahwa aku itu sudah tuwex emak-emak, anak 3, satu sudah remaja malah, harus tahu diri, berubah menjadi bijaksana. *Ah, mungkinkah?* Yah walaupun, gak mau ngaku tua sih, seringnya merasa masih 20-an gitu loh Ih gak teu diri bangets yah.

Kata sohibku usia hanyalah angka, namun seiring berjalannya waktu sungguh usia membuatku berpikir akan banyak hal, terutama sekarang ketika si anak bujang sudah menjulang tinggi jauh melebihiku (ssst…sebenarnya karena mamanya pendek sih). Ada banyak pertanyaan muncul, misal:

Masihkah pantas aku menjawab, “ah…aku gak tahu banyak soal Islam”, atau tentang adat Minang Kabau tercinta, misalnya, jika ditanya. Berapa waktu yang telah lewat yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat belajar, agamamu sendiri, adat negeri leluhurmu sendiri?

Apakah yang kulakukan selama ini sudah bermanfaat, apakah aku sudah bisa membuat orang-orang yang aku cintai bahagia, atau hanya aku saja yang dibahagiakan mereka?

Sejuta pertanyaan melekat di benakku. Belum lagi kegilaan untuk belajar banyak hal begitu menggebu saat ini. Rasanya ingin belajar semua yang menarik minatku (bahkan yg sebelumnya tak menarik seperti masak!), sementara kesibukan membuatku gak mungkin melakukan semuanya. Jadi ingat kayanya Dian pernah juga menulis tentang hal ini. Semakin tua semakin jadi minat belajarnya. Dan my love juga begitu, tambah tua tambah ingin belajar banyak hal, yang membuat kita kadang hanyut pada diskusi yang berapi-api, bersemangat maksudnya. Soalnya aku, semakin belajar semakin merasa bodoh!?

Ada satu hal yang aku ingat tentang umur ini. Sewaktu mau ikut rafting di Sungai Alas dulu (masih punya anak 1), temanku sempat menggoda: “Napa Kak? Kok ragu, gak berani ya?”

“Kalau ikut kata hati saja, berani aja sih friend, kataku. Cuma sejak punya anak, jujur aku jadi pengecut. Kamu tahu, aku bukan lagi remaja yang hanya mengikuti gejolak darahmuda, atau yang masih mencari jati diri, sekarang aku emak-emak, yang kalau mau melakukan sesuatu harus mikir panjang dulu. Aku tak perlu membuktikan apapun dengan sok-sokan berarung jeram di arus deras, lalu mati. “

Namun akhirnya aku ikut juga sih, tak bisa menolak godaan adrenalin hehe. Yang penting tidak takabur.

Sewaktu remaja, jangankan takut, terpikirpun tidak pada bahaya. Dulu aku sering berperahu ke tengah danau, atau laut, padahal gak bisa berenang. Atau ikut teman-teman kebut-kebutan, tak pernah terpikir bahayanya. Mungkin begitu juga yang dialami remajaku ya, si Ofai itu. Sekarang kena “karma” nya deh :D Sering cemas mikirin dia.

Dan kini aku terpaku pada satu hal: seharusnya semakin tua kita semakin bijak. Mudah-mudahan aku bisa ya…walau perlahan.

RuangBiru, 12 Februari 2009


Foto: keluargaku tercinta, jadul :)

Ditulis dalam Soliloqui | & Komentar

About Me

My photo
Welcome to my Blog.... Mom, kids lover, nature lover, Islam and peace lover, like to read, write, travel. Darussalam, Banda Aceh. Indonesia.